Terlalu banyak timbel dalam tubuh manusia dapat menyebabkan kerusakan serius terhadap otak, ginjal,sistem saraf dan sel darah merah. Dalam jumlah kecil, timbel merusak kesehatan tubuh terutama janin dan anak-anak. Sumber-sumber pencemaran timbel terdekat di sekitar rumah kita antara lain cat yang mengandung timbel, kontaminasi tanah oleh timbel, udara dan debu, makanan yang terkontaminasi timbel, makanan kaleng yang mengandung solder timbel, kristal timbel, dan air minum yang terkontaminasi timbel. US CDC ( Center for Disease Control ) melaporkan bahwa rata-rata 10 sampai 20 persen terpaparnya timbel dalam tubuh anak-anak berasal dari air minum. Secara alamiah, timbel terdapat didalam air. Didalam air, timbel tidak dapat dirasakan, tidak berwarna dan tidak berbau. Sebagian besar kontaminasi timbel di air terjadi pada saluran pipa-pipa air. Hal ini disebabkan terjadinya korosif yaitu reaksi antara air dengan kandungan timbel yang terdapat di pipa-pipa air. Kontaminasi timbel dalam air minum yang berasal pipa-pipa pelayanan air minum (PAM) merupakan masalah terbesar di perumahan-perumahan. Hal itu disebabkan berbagai karakteristik air: dimana air lebih korosif dibandingkan larutan lainnya. Faktor-faktor fisik lainnya seperti keasaman, suhu panas, rendahnya kandungan padatan yang terlarut, tingginya oksigen terlarut atau karbon dioksida. Umumnya, air dingin lebih korosif dibandingkan air hangat karena lebih asam dan rendah TDS ( total dissolved solids ). US EPA (Environmental Protection Agency) merekomendasi ambang batas konsentrasi timbel yang diprasyaratkan sebagai air minum sebesar 15 ppb ( parts per billion ) atau setara dengan 0.015 miligram per liter (mg/l) . Sedangkan di Indonesia, prasyarat konsentrasi paparan timbel dalam air minum lebih rendah. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 907 tahun 2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan air minum bahwa ambang batas timbel yang diperbolehkan yaitu 0.01 miligram per liter (mg/l) .
|